WHO Perluas Bukti Ilmiah Obat Tradisional untuk Kesehatan Global

Pada Agustus 2023, sebuah pertemuan bersejarah berlangsung di India. Organisasi Kesehatan Dunia mengadakan KTT Global Tingkat Tinggi pertama mereka yang membahas pengobatan tradisional.
Tujuannya jelas: mengeksplorasi bagaimana penyembuhan alami dan komplementer dapat membantu mengatasi tantangan kesehatan dunia. Inisiatif ini bertujuan mendorong kemajuan menuju pembangunan berkelanjutan.
Momen ini menandai pengakuan resmi bahwa praktik kuno berpotensi menjadi solusi modern. Fokusnya adalah membawa pengobatan tradisional ke arus utama dengan cara yang tepat dan terukur.
Kunci dari semua ini adalah basis bukti ilmiah yang kuat. Prinsipnya, “alami” belum tentu selalu aman. Penggunaan turun-temurun juga bukan jaminan keampuhan.
Oleh karena itu, metode penelitian yang ketat mutlak diperlukan. Ini untuk memastikan keamanan, kualitas, dan efektivitas setiap produk atau praktik.
Bagi kita di Indonesia, hal ini sangat relevan. Negara kita kaya akan biodiversitas dan kearifan lokal tentang tanaman obat. Pemahaman akan pergeseran paradigma global ini membuka peluang strategis.
Poin Penting yang Dapat Diambil
- KTT Global WHO menandai titik balik dalam pengakuan internasional terhadap pengobatan tradisional.
- Ada upaya serius untuk mengintegrasikan praktik ini ke dalam sistem kesehatan nasional berbagai negara.
- Semua integrasi harus dilandasi oleh bukti ilmiah yang kuat mengenai keamanan dan khasiat.
- Inisiatif ini terkait erat dengan tujuan mencapai cakupan kesehatan semesta (universal health coverage).
- Pendekatan yang diusung bersifat holistik, memadukan pengetahuan lokal dengan standar ilmiah modern.
- Indonesia, dengan kekayaan alam dan budayanya, memiliki posisi yang sangat strategis dalam peta global ini.
Mengapa Bukti Ilmiah Obat Tradisional Kini Jadi Prioritas Global?
Data terbaru mengungkap sebuah realitas global yang menarik: hampir 90% negara di dunia mengandalkan berbagai bentuk penyembuhan alami dan komplementer. Survei dari badan kesehatan internasional menunjukkan 170 dari 194 negara anggota melaporkan penggunaan ramuan herbal, akupunktur, yoga, dan terapi indigenous.
Ini bukan fenomena kecil. Jutaan orang, khususnya di daerah pedesaan dan terpencil, menjadikan praktik warisan leluhur sebagai pilihan utama untuk menjaga kesejahteraan. Alasannya jelas: perawatan ini mudah didapat, harganya terjangkau, dan sangat dekat dengan nilai budaya setempat.
Di sisi lain, tren masyarakat modern juga berperan. Banyak pasien kini ingin punya kendali lebih besar atas kondisi tubuh mereka sendiri. Mereka mencari pendekatan kesehatan yang lebih personal dan holistik, di mana kearifan lokal sering kali menjadi jawabannya.
Namun, di balik penggunaan yang begitu masif, tersembunyi sebuah kesenjangan besar. Standar verifikasi keampuhan dan jaminan keamanan pasien belum merata. Kontrol mutu produk dan terapi berbasis prosedur sering kali tidak konsisten.
Inilah akar permasalahan yang mendorong isu ini menjadi agenda mendesak. Direktur Jenderal organisasi kesehatan dunia, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, menegaskan prinsip integrasi. Menurutnya, langkah ini harus dilakukan “dengan tepat, efektif, dan di atas segalanya, aman berdasarkan bukti ilmiah terbaru”.
Pandemi COVID-19 justru memperjelas konteks ini. Di banyak komunitas, sistem penyembuhan tradisional menunjukkan ketahanannya. Peristiwa ini sekaligus mempercepat diskusi global tentang bagaimana merangkul praktik tersebut secara bertanggung jawab.
Prioritas ini juga selaras dengan komitmen politik internasional. Pertemuan Tingkat Tinggi PBB tentang cakupan kesehatan semesta pada 2019 telah mengakui kebutuhan mendesak. Layanan pengobatan komplementer berbasis data pendukung perlu diintegrasikan ke dalam sistem.
Jadi, dorongan untuk memperkuat landasan penelitian bukanlah upaya menggantikan kearifan lokal. Tujuannya justru untuk melindungi masyarakat. Dengan standar yang jelas, manfaat terbaik dari bahan alam dan warisan leluhur dapat dinikmati secara lebih efektif dan terjamin.
KTT Global WHO: Mendorong Integrasi Berbasis Bukti
Pertemuan puncak global menjadi momen penentu bagi pengakuan formal terhadap kearifan pengobatan kuno. Acara bersejarah ini diselenggarakan oleh Pusat Pengobatan Tradisional Global badan kesehatan dunia dan didukung oleh Pemerintah India.
Pelaksanaannya sejalan dengan presidensi G20 India. Forum ini menghimpun komitmen politik tingkat tinggi untuk masa depan sistem penyembuhan komplementer.
Tujuan dan Agenda Pertemuan Tingkat Tinggi
Tujuan inti pertemuan ini adalah mengeksplorasi cara memajukan sains. Potensi pengetahuan berbasis bukti dalam penggunaan ramuan dan terapi warisan ingin diwujudkan.
Pesertanya mencerminkan keseriusan agenda ini. Hadir para menteri kesehatan dari negara-negara G20, direktur regional, dan undangan khusus dari enam wilayah.
Ilmuwan, praktisi, pekerja kesehatan, dan perwakilan masyarakat sipil juga berpartisipasi aktif. Suara mereka memastikan diskusi tetap menyeluruh dan relevan.
Agenda teknis dirancang untuk membahas fondasi integrasi. Pembahasan terbagi dalam empat alur kerja kritis yang saling terkait.
Setiap alur kerja fokus pada pilar spesifik untuk memperkuat landasan ilmiah. Tujuannya adalah memastikan keamanan dan khasiat setiap produk atau praktik yang digunakan masyarakat.
| Alur Kerja Teknis | Fokus Pembahasan | Tujuan Strategis |
|---|---|---|
| Penelitian, Bukti, dan Pembelajaran | Metodologi riset, uji klinis, dan validasi khasiat. | Menciptakan basis data ilmiah yang kuat untuk obat bahan alam. |
| Kebijakan, Data, dan Regulasi | Kerangka hukum, pengumpulan data, dan kontrol mutu. | Membangun sistem regulasi yang efektif dan melindungi pasien. |
| Inovasi dan Kesehatan Digital | Teknologi pendukung, seperti aplikasi dan diagnostik digital. | Mempercepat pengembangan obat dan akses layanan. |
| Keanekaragaman Hayati, Kesetaraan, dan Pengetahuan Indigenous | Pelestarian sumber daya alam dan penghargaan pada kearifan lokal. | Menjamin keberlanjutan dan keadilan dalam pemanfaatan. |
Temuan Awal: Data dari Survei Global Terbaru WHO
Salah satu hasil penting KTT adalah presentasi temuan awal survei global ketiga. Cakupan survei ini jauh lebih luas dibandingkan edisi sebelumnya.
Untuk pertama kalinya, pertanyaan mencakup aspek pembiayaan, kesehatan Masyarakat Adat, dan jaminan kualitas. Aspek perdagangan, integrasi, dan keselamatan pasien juga diteliti.
Data yang dikumpulkan sangat berharga. Informasi ini akan menjadi tulang punggung untuk menyusun Strategi Pengobatan Tradisional 2025-2034.
Penyusunan strategi baru dimandatkan oleh Majelis Kesehatan Dunia pada Mei 2023. Survei lengkap akan dirilis melalui dashboard online interaktif dan laporan khusus.
Kemajuan penting lain adalah pembahasan implementasi bab khusus dalam Klasifikasi Penyakit Internasional (ICD-11). Integrasi kode dan dokumentasi kondisi terkait pengobatan tradisional adalah terobosan besar.
Langkah ini memungkinkan pengelolaan data yang lebih baik di tingkat nasional. Regulasi dan pelacakan keamanan produk herbal pun menjadi lebih efektif.
KTT juga berfungsi sebagai ajang berbagi pengalaman. Negara-negara saling bertukar tren regional dan praktik terbaik dalam mengatur sistem ini.
Diskusi mencakup pelatihan dan akreditasi praktisi. Tujuannya jelas: memajukan keselamatan pasien dan membangun kepercayaan publik.
Semua upaya ini bertumpu pada satu prinsip utama. Integrasi pengetahuan lokal dengan standar modern harus dilakukan secara bertanggung jawab dan terukur.
Dari Global ke Lokal: Komitmen Indonesia dan Apresiasi WHO

Sebuah kunjungan penting ke fasilitas produksi di Jakarta menjadi bukti nyata sinergi yang dibangun. Komitmen Indonesia dalam menjawab seruan global untuk integrasi berbasis bukti tidak hanya di tingkat wacana.
Inisiatif ini mendapatkan apresiasi langsung dari organisasi internasional. Hal tersebut menunjukkan posisi strategis negara kita dalam peta baru kesejahteraan dunia.
Kolaborasi WHO, BPOM, dan Industri Lokal
Dalam rangkaian pertemuan tahunan badan kesehatan dunia di Jakarta, tim International Regulatory Cooperation for Herbal Medicines (WHO-IRCH) melakukan kunjungan lapangan. Sasaran mereka adalah PT Bintang Toedjoe, anak perusahaan PT Kalbe Farma Tbk.
Kunjungan ini didampingi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI). Tujuannya adalah melihat langsung komitmen industri lokal dalam pengembangan obat herbal modern.
Model kolaborasi segitiga ini—antara lembaga global, regulator nasional, dan pelaku usaha—menjadi contoh powerful. Sinergi semacam ini dianggap kunci untuk memajukan ekosistem obat bahan alam Indonesia secara bertanggung jawab.
Presiden Direktur Kalbe, Irawati Setiady, menegaskan hal ini. Menurutnya, membangun masa depan kesehatan yang lebih baik memerlukan kerja sama erat antara pemerintah, industri, lembaga penelitian, akademisi, dan organisasi internasional.
Informasi lebih detail tentang kunjungan WHO-IRCH ke Bintang Toedjoe dapat dilihat dalam laporan lengkapnya.
Local Wisdom for Global Health: Jahe Merah sebagai Contoh Sukses
Konsep “Local Wisdom for Global Health” yang diusung organisasi internasional menemukan bentuk nyatanya di sini. Kearifan lokal Indonesia dalam memanfaatkan jahe merah diangkat menjadi produk herbal berstandar global.
Bintang Toedjoe menghadirkan inovasi seperti Bejo Jahe Merah dan Komix Herbal. Produk-produk ini adalah hasil transformasi bahan alam Indonesia melalui riset ilmiah dan proses produksi berstandar tinggi.
Seluruh fasilitas perusahaan telah tersertifikasi CPOBAB (Cara Pembuatan Obat Bahan Alam yang Baik). Sertifikasi internasional seperti ISO 9001, 14001, dan 45001 juga dimiliki, menjamin aspek keamanan, mutu, dan keberlanjutan.
Yang lebih mengesankan adalah ekosistem terintegrasi yang dibangun. Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik BPOM, Apt. Mohamad Kashuri, menyampaikan apresiasi tinggi.
Ia memuji terobosan dalam membangun ekosistem jahe merah yang komprehensif. Kolaborasi aktif melibatkan petani binaan, sektor swasta, lembaga pendidikan, dan instansi pemerintah.
Pendekatan dari hulu ke hilir ini memastikan ketersediaan bahan baku berkualitas. Secara bersamaan, ia juga mendukung ekonomi masyarakat lokal dan prinsip keberlanjutan.
Potensi alam Indonesia dinilai sangat strategis. Bahan baku lokal dapat diolah menjadi produk herbal yang memenuhi standar dunia, menjawab kebutuhan pasar yang semakin luas.
Menjawab Tantangan: Keamanan, Regulasi, dan Standar Ilmiah

Di balik potensi besar yang ditawarkan, terdapat serangkaian tantangan kompleks yang harus dijawab. Integrasi penyembuhan alami ke dalam sistem modern memerlukan pendekatan yang hati-hati dan komprehensif.
Tantangan utama adalah memastikan keamanan bagi setiap orang yang menggunakan produk ini. Banyak orang beranggapan bahwa sesuatu yang alami pasti aman, namun persepsi ini bisa menyesatkan.
Tanaman atau ramuan tertentu dapat berinteraksi dengan obat resep atau memiliki efek samping jika dikonsumsi tidak tepat. Oleh karena itu, jaminan keamanan menjadi prioritas mutlak.
Regulasi yang kuat dan adaptif sangat dibutuhkan. Pengawasan harus mencakup seluruh perjalanan sebuah produk, mulai dari budidaya bahan baku di lahan pertanian.
Proses produksi di pabrik juga harus mematuhi standar kebersihan dan konsistensi yang ketat. Hingga akhirnya, distribusi ke apotek atau toko perlu dipastikan aman dan terkontrol.
Pengembangan standar ilmiah yang robust adalah kunci berikutnya. Dr. John Reeder, seorang direktur di program penelitian organisasi kesehatan dunia, menyoroti hal ini.
Ia menyatakan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan di bidang ini harus dipegang pada standar ketat yang sama seperti bidang kesehatan lainnya. Namun, pendekatan holistik khas pengobatan warisan memerlukan metodologi penelitian baru.
Metode ini harus bisa menangani kompleksitas pendekatan kontekstual dan tetap memberikan bukti yang meyakinkan. Bukti kuat inilah yang nantinya akan mengarah pada rekomendasi kebijakan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Penelitian klinis yang dirancang dengan baik menjadi tulang punggung pembuktian. Uji toksisitas dan studi farmakologi diperlukan untuk memetakan dengan jelas khasiat dan profil keamanan suatu bahan alam.
Tanpa data ini, klaim manfaat hanya akan tetap menjadi cerita turun-temurun tanpa dasar yang kokoh.
| Tantangan Utama | Langkah Strategis yang Diperlukan | |
|---|---|---|
| Keamanan Produk & Persepsi Publik | Anggapan “alami = aman” dan risiko interaksi atau efek samping. | Edukasi masyarakat yang berkelanjutan dan sistem pelaporan kejadian tidak diinginkan (pharmacovigilance) yang aktif. |
| Regulasi Rantai Pasok | Pengawasan dari hulu (budidaya) ke hilir (distribusi) yang konsisten dan merata. | Penyusunan pedoman nasional yang jelas dan peningkatan kapasitas pengawasan regulator seperti BPOM. |
| Standar Penelitian Holistik | Kesulitan mengevaluasi pendekatan terapi yang komprehensif dengan metodologi konvensional. | Pengembangan dan validasi metodologi penelitian baru yang khusus dirancang untuk menilai pendekatan pengobatan tradisional. |
| Standardisasi Data | Kesenjangan dalam dokumentasi dan pelacakan outcomes di sistem kesehatan. | Implementasi penuh bab khusus dalam ICD-11 untuk pengkodean kondisi terkait, memungkinkan pengelolaan data yang efektif. |
| Kolaborasi Multi-Pihak | Menyelaraskan kepentingan dan pengetahuan antara regulator, industri, dan akademisi. | Membentuk forum atau konsorsium tetap untuk bersama-sama menyusun protokol, pedoman, dan agenda riset nasional. |
Membangun sistem data yang terstandar adalah tantangan lain yang krusial. Inisiatif seperti pengkodean dalam Klasifikasi Penyakit Internasional (ICD-11) membuka jalan.
Dokumentasi yang baik memungkinkan pengelolaan dan regulasi yang lebih efektif. Data ini juga vital untuk memantau hasil pengobatan dan mendeteksi dini masalah keamanan.
Kolaborasi erat antara berbagai pemangku kepentingan tidak bisa ditawar. Regulator nasional, pelaku industri, dan peneliti dari universitas harus duduk bersama.
Tujuannya adalah menciptakan protokol dan pedoman yang selaras, serta dapat diterima secara internasional. Sinergi ini akan mempercepat pengembangan obat bahan alam yang berkualitas.
Edukasi kepada masyarakat juga merupakan bagian penting dari puzzle ini. Konsumen perlu menjadi cerdas dan kritis.
Mereka harus memahami pentingnya memilih produk yang telah terdaftar resmi dan memiliki nomor izin edar dari BPOM. Pemahaman ini melindungi mereka dari produk palsu atau yang tidak memenuhi standar.
Mengatasi semua tantangan ini bukanlah penghalang, melainkan jalan yang harus dilalui. Langkah-langkah ini penting untuk melindungi pasien dan membangun kepercayaan publik yang berkelanjutan.
Dengan fondasi keamanan, regulasi, dan standar ilmiah yang kokoh, potensi penuh dari kearifan lokal ini baru dapat diwujudkan untuk memberi manfaat lebih luas.
Kesimpulan: Masa Depan Pengobatan Tradisional yang Berkelanjutan dan Teruji
Melihat ke depan, perjalanan pengobatan berbasis alam sedang menapaki era baru yang penuh harapan. Strategi global 2025-2034 yang disusun organisasi kesehatan dunia akan menjadi peta jalan penting.
Pusat pengetahuan di India akan mendorong inovasi dan kemitraan. Bagi Indonesia, ini peluang emas untuk menjadi pemain utama dengan kekayaan bahan alam yang melimpah.
Masa depan terletak pada prinsip keberlanjutan. Konservasi keanekaragaman hayati, pemberdayaan petani, dan pelestarian kearifan budaya harus berjalan seiring.
Pengembangan obat bahan alam perlu berorientasi pada inovasi mendalam. Dari penemuan senyawa aktif hingga formulasi modern yang menjawab kebutuhan kini.
Kolaborasi antara regulator, industri, dan akademisi harus diperkuat. Sinergi ini memastikan produk yang aman dan efektif untuk masyarakat.
Tujuannya adalah sistem kesehatan yang inklusif dan tangguh. Dengan komitmen semua pihak, pengobatan warisan yang teruji akan menjadi pilar penting untuk semua.


